UGM Perkuat Peran dalam Pemulihan Pascabanjir
Universitas Gadjah Mada terus menguatkan kontribusinya dalam fase pemulihan pascabencana di wilayah Sumatra. Salah satu bentuk nyata peran tersebut diwujudkan melalui pembangunan 100 unit Hunian Sementara (Huntara) bagi warga terdampak banjir di Aceh Utara.
Program ini tidak hanya berfokus pada penyediaan bangunan fisik, tetapi juga menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam proses pemulihan. Melalui pendekatan berbasis partisipasi, warga didorong untuk terlibat langsung dalam pembangunan hunian yang akan mereka tempati.
Desa Geudumbak Jadi Lokasi Pembangunan Huntara
Pembangunan Huntara dipusatkan di Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan. Wilayah ini menjadi salah satu kawasan yang terdampak cukup parah akibat banjir, sehingga kebutuhan akan hunian sementara menjadi sangat mendesak.
Keberadaan Huntara diharapkan mampu memberikan rasa aman dan layak huni bagi warga selama masa transisi menuju hunian permanen. Selain itu, lokasi pembangunan dipilih dengan mempertimbangkan aspek keamanan, aksesibilitas, serta kedekatan dengan sumber penghidupan warga.
Pelatihan Konstruksi Jadi Bagian Penting Program
Berbeda dengan pendekatan konvensional, pembangunan Huntara ini diawali dengan pelatihan keterampilan konstruksi bagi warga setempat. Pelatihan tersebut dirancang agar masyarakat memiliki kemampuan teknis untuk membangun dan merawat hunian secara mandiri.
Kegiatan ini didampingi oleh tim ahli konstruksi dan kebencanaan dari Fakultas Teknik UGM yang tergabung dalam Tim Tangguh. Pelatihan menitikberatkan pada keterampilan praktis yang mudah dipahami dan langsung dapat diterapkan di lapangan.
Warga Dilibatkan sebagai Subjek Pemulihan
Ketua Tim Tangguh Fakultas Teknik UGM, Ashar Saputra, menjelaskan bahwa pendekatan partisipatif menjadi prinsip utama dalam program ini. Menurutnya, pemulihan pascabencana akan lebih berkelanjutan jika warga tidak hanya menjadi penerima bantuan, tetapi juga pelaku utama dalam proses pembangunan.
Melalui pelatihan ini, warga dibekali pemahaman mengenai konstruksi kayu, teknik sambungan, serta prinsip dasar keselamatan bangunan. Dengan keterampilan tersebut, warga diharapkan mampu berkontribusi aktif dalam pembangunan 100 unit Huntara secara gotong royong.
Desain Sederhana dan Mudah Direplikasi
Desain Huntara yang dikembangkan UGM menggunakan pendekatan konstruksi sederhana agar mudah dipahami oleh masyarakat awam. Hunian dirancang berbentuk rumah papan dengan ukuran sekitar 6×6 meter, menyesuaikan kebutuhan dasar keluarga terdampak.
Model ini dipilih karena dapat dibangun dalam waktu relatif singkat dengan bahan yang mudah diperoleh di sekitar lokasi. Selain itu, desain tersebut memungkinkan proses perakitan dilakukan secara bertahap sesuai ketersediaan tenaga dan material.
Transfer Pengetahuan Jadi Nilai Tambah
Salah satu nilai tambah dari program ini adalah terjadinya transfer pengetahuan dari akademisi kepada masyarakat. Warga tidak hanya menerima hasil akhir berupa bangunan, tetapi juga memperoleh keterampilan baru yang dapat dimanfaatkan di masa depan.
Keterampilan konstruksi kayu yang diperoleh selama pelatihan berpotensi membuka peluang ekonomi baru bagi warga, baik melalui pekerjaan di sektor konstruksi lokal maupun kegiatan perawatan hunian jangka panjang.
Gotong Royong Percepat Penyediaan Hunian
Pelibatan warga dalam pembangunan Huntara menciptakan semangat gotong royong yang kuat. Proses pembangunan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada tenaga profesional dari luar daerah, melainkan memanfaatkan kapasitas lokal yang telah diperkuat melalui pelatihan.
Pendekatan ini dinilai mampu mempercepat penyediaan hunian sementara, sekaligus memperkuat rasa memiliki warga terhadap bangunan yang mereka dirikan sendiri. Rasa kepemilikan ini penting untuk menjaga keberlanjutan dan perawatan Huntara selama digunakan.
Dukungan Akademik untuk Solusi Nyata
Program pembangunan Huntara di Aceh Utara menunjukkan bagaimana peran perguruan tinggi dapat diterjemahkan menjadi solusi nyata bagi masyarakat terdampak bencana. Keilmuan yang dimiliki kampus tidak berhenti pada riset, tetapi diimplementasikan langsung untuk menjawab kebutuhan lapangan.
UGM memadukan pendekatan akademik, teknis, dan sosial dalam satu program terpadu. Sinergi ini diharapkan menjadi model pemulihan pascabencana yang dapat direplikasi di wilayah lain dengan karakteristik serupa.
Hunian Sementara sebagai Fase Transisi Penting
Hunian sementara memiliki peran krusial dalam fase transisi pascabencana. Huntara menjadi jembatan antara kondisi darurat dan pembangunan hunian permanen, sehingga kualitas desain dan konstruksinya sangat menentukan kenyamanan warga.
Dengan pendekatan partisipatif dan desain yang adaptif, Huntara yang dibangun di Aceh Utara diharapkan mampu memenuhi kebutuhan dasar warga sekaligus mendukung pemulihan psikososial pascabencana.
Menuju Pemulihan yang Lebih Berkelanjutan
Pembangunan 100 unit Huntara ini menjadi bagian dari upaya pemulihan jangka menengah yang berorientasi pada keberlanjutan. Melalui pelibatan warga, penguatan kapasitas lokal, dan pendampingan teknis dari UGM, proses pemulihan diharapkan tidak berhenti pada penyediaan hunian semata.
Ke depan, UGM membuka peluang pengembangan program lanjutan, termasuk pendampingan teknis tambahan dan evaluasi kualitas hunian. Langkah ini bertujuan memastikan Huntara benar-benar layak huni dan mampu menjadi fondasi pemulihan yang lebih kuat bagi warga Aceh Utara.
Baca Juga : Tim UGM Kembangkan Peta Kebencanaan Sumatra Berbasis Spasial
Cek Juga Artikel Dari Platform : seputardigital

