indosiar.site Isu lingkungan kembali menjadi sorotan setelah pernyataan tegas disampaikan oleh Ignatius Kardinal Suharyo. Dalam refleksinya, ia menekankan bahwa dunia bukanlah milik segelintir orang, melainkan rumah bersama yang harus dijaga keberlanjutannya. Pesan ini menggugah kesadaran banyak pihak karena disampaikan dalam konteks moral dan kemanusiaan yang mendalam.
Menurut Kardinal Suharyo, kerusakan alam sering kali tidak terjadi secara kebetulan. Ada relasi kuasa yang timpang, di mana pihak yang memiliki kekuatan ekonomi dan politik justru menjadi aktor utama perusakan lingkungan. Ironisnya, dampak dari tindakan tersebut tidak mereka rasakan secara langsung, melainkan ditanggung oleh masyarakat kecil yang tidak memiliki kuasa untuk melawan.
Dunia sebagai Rumah Bersama, Bukan Objek Eksploitasi
Dalam pandangan Kardinal Suharyo, bumi adalah ruang hidup bersama yang seharusnya dirawat dengan penuh tanggung jawab. Alam bukan sekadar sumber daya ekonomi yang bisa dieksploitasi tanpa batas, tetapi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Ketika hutan ditebang secara masif, sungai tercemar, dan ekosistem rusak, yang terancam bukan hanya lingkungan, melainkan juga masa depan generasi mendatang.
Ia menyoroti kenyataan pahit bahwa di banyak tempat, pembangunan sering kali mengorbankan kelestarian alam. Hutan yang semestinya menjadi penyangga kehidupan justru dirusak atas nama kepentingan jangka pendek. Dalam situasi seperti ini, masyarakat adat, petani kecil, dan kelompok rentan menjadi pihak yang paling menderita.
Ketimpangan Kuasa dan Dampak Sosial
Pernyataan Kardinal Suharyo mengenai “yang kaya merusak hutan, korbannya yang tidak punya kuasa” menggambarkan realitas ketimpangan sosial yang masih kuat. Mereka yang memiliki modal dan akses kebijakan dapat melakukan eksploitasi, sementara masyarakat sekitar hutan kehilangan sumber penghidupan, menghadapi bencana ekologis, dan terpinggirkan dari ruang hidupnya sendiri.
Kerusakan lingkungan tidak hanya berdampak pada aspek ekologis, tetapi juga sosial dan ekonomi. Banjir, tanah longsor, kekeringan, dan hilangnya keanekaragaman hayati adalah konsekuensi nyata yang harus ditanggung masyarakat. Dalam konteks ini, Kardinal Suharyo mengajak semua pihak untuk melihat persoalan lingkungan sebagai persoalan keadilan.
Refleksi Moral di Ruang Ibadah
Pesan tersebut disampaikan usai Misa Pontifikal yang berlangsung di Gereja Katedral Jakarta, sebuah tempat ibadah yang kerap menjadi ruang refleksi nilai-nilai kemanusiaan. Gereja, menurut Kardinal Suharyo, memiliki peran penting dalam menyuarakan suara moral, terutama ketika terjadi ketidakadilan yang merugikan banyak orang.
Melalui refleksi keagamaan, umat diajak untuk tidak menutup mata terhadap penderitaan sesama. Kerusakan alam dipandang bukan sekadar isu teknis atau kebijakan, tetapi persoalan etika yang menyentuh inti ajaran kemanusiaan: saling menjaga, melindungi yang lemah, dan menghormati ciptaan.
Tanggung Jawab Bersama Menjaga Lingkungan
Kardinal Suharyo menegaskan bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tugas pemerintah atau aktivis, melainkan tanggung jawab seluruh masyarakat. Setiap individu memiliki peran, sekecil apa pun, dalam merawat alam. Kesadaran ini perlu dibangun sejak dini agar eksploitasi tidak terus berulang dengan dalih kemajuan.
Ia juga menekankan pentingnya keberanian moral untuk bersuara. Ketika terjadi ketidakadilan lingkungan, masyarakat tidak boleh diam. Solidaritas sosial dan keberpihakan pada mereka yang terdampak menjadi kunci untuk menciptakan perubahan yang lebih adil dan berkelanjutan.
Lingkungan, Iman, dan Masa Depan Bangsa
Isu lingkungan yang diangkat Kardinal Suharyo memiliki relevansi luas bagi masa depan bangsa. Indonesia dikenal sebagai negara dengan kekayaan alam yang melimpah, namun juga rentan terhadap kerusakan lingkungan. Jika pengelolaan alam tidak dilakukan dengan bijak, maka kekayaan tersebut justru bisa menjadi sumber bencana.
Dalam perspektif iman, merusak alam berarti mengingkari tanggung jawab moral manusia sebagai penjaga ciptaan. Pesan ini melampaui sekat agama dan dapat diterima sebagai nilai universal. Kepedulian terhadap lingkungan menjadi titik temu antara iman, kemanusiaan, dan keberlanjutan hidup bersama.
Ajakan untuk Berpihak pada yang Lemah
Melalui pernyataannya, Kardinal Suharyo mengajak masyarakat untuk berpihak pada mereka yang tidak memiliki kuasa. Pembangunan dan pertumbuhan ekonomi seharusnya tidak mengorbankan kelompok rentan. Sebaliknya, kebijakan harus dirancang dengan mempertimbangkan dampak sosial dan lingkungan secara menyeluruh.
Pesan ini menjadi pengingat bahwa kemajuan sejati tidak diukur dari seberapa besar keuntungan yang diraih, tetapi dari seberapa adil dan berkelanjutan dampaknya bagi semua. Alam yang terjaga dan masyarakat yang dilindungi adalah fondasi utama bagi masa depan yang lebih manusiawi.
Penutup: Suara Nurani untuk Semua
Pernyataan Kardinal Suharyo bukan sekadar kritik, melainkan suara nurani yang mengajak refleksi bersama. Kerusakan hutan dan lingkungan adalah masalah bersama yang membutuhkan tanggung jawab kolektif. Dengan menempatkan keadilan, kepedulian, dan keberlanjutan sebagai nilai utama, masyarakat diharapkan dapat membangun hubungan yang lebih harmonis dengan alam dan sesama.
Pesan dari Katedral ini menjadi pengingat bahwa menjaga bumi berarti menjaga kehidupan. Ketika yang kuat memilih untuk bertanggung jawab, maka yang lemah tidak lagi harus menanggung beban kerusakan sendirian.

Cek Juga Artikel Dari Platform radarjawa.web.id
