Polri Rilis Capaian Kinerja Sepanjang 2025
Markas Besar Polri menggelar Rilis Akhir Tahun (RAT) 2025 sebagai bentuk pertanggungjawaban kinerja kepada publik. Kegiatan ini berlangsung di Rupatama Mabes Polri, Jakarta, dan dihadiri oleh jajaran pimpinan kepolisian.
Dalam rilis tersebut, masing-masing direktorat memaparkan capaian pengungkapan berbagai tindak pidana yang terjadi sepanjang tahun. Fokus utama laporan mencakup kejahatan siber, narkotika, hingga penanganan pelanggaran internal anggota kepolisian.
Penipuan Online Masih Dominasi Kejahatan Siber
Direktorat Reserse Siber Bareskrim Polri mencatat lonjakan signifikan dalam pengungkapan kasus kejahatan siber sepanjang Januari hingga pertengahan Desember 2025. Total kasus yang berhasil ditangani mencapai 6.480 perkara.
Dari jumlah tersebut, penipuan online masih menjadi jenis kejahatan yang paling mendominasi. Laporan RAT 2025 mencatat sedikitnya 2.712 kasus penipuan online berhasil diungkap. Modus yang digunakan pelaku pun semakin beragam, mulai dari penipuan jual beli daring, investasi bodong, hingga penipuan berkedok undian dan hadiah.
Polri menilai tingginya angka penipuan online tidak terlepas dari meningkatnya aktivitas masyarakat di ruang digital, terutama dalam transaksi ekonomi dan penggunaan media sosial.
Pencemaran Nama Baik dan Judi Online Masuk Tiga Besar
Selain penipuan online, kasus pencemaran nama baik menjadi jenis kejahatan siber terbanyak kedua. Sepanjang 2025, tercatat sebanyak 1.039 kasus pencemaran nama baik yang ditangani Direktorat Siber Polri.
Kasus perjudian online juga masih menjadi perhatian serius. Polri mencatat sebanyak 763 kasus judi online berhasil diungkap. Praktik ini dinilai tidak hanya merugikan secara ekonomi, tetapi juga berdampak sosial luas, terutama pada kelompok usia produktif.
Di posisi berikutnya, terdapat kasus akses ilegal ke sistem elektronik dengan total 683 kasus. Kejahatan ini mencakup peretasan akun, pembobolan sistem, hingga pencurian data pribadi.
Pornografi, Hoaks, dan Deep Fake Ikut Ditangani
Direktorat Reserse Siber juga menangani berbagai jenis kejahatan digital lainnya. Sepanjang 2025, Polri mencatat 426 kasus pornografi yang diproses secara hukum.
Selain itu, penyebaran berita bohong atau hoaks serta konten deep fake juga menjadi perhatian serius. Sebanyak 249 kasus hoaks dan deep fake ditangani, mengingat dampaknya yang dapat memicu keresahan publik dan mengganggu stabilitas sosial.
Kasus pengancaman di ruang digital tercatat sebanyak 221 perkara, sementara manipulasi data elektronik mencapai 163 kasus. Polri menegaskan bahwa kejahatan siber terus berkembang seiring kemajuan teknologi.
Pengungkapan Kasus Narkoba Meningkat Signifikan
Di sektor pemberantasan narkotika, Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri mencatat capaian besar sepanjang 2025. Total kasus narkoba yang berhasil diungkap mencapai 48.592 perkara.
Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Berdasarkan data yang ditampilkan dalam video RAT 2025, Polri berhasil mengamankan 64.055 orang tersangka dari berbagai jaringan peredaran narkoba.
Polri menilai peningkatan pengungkapan ini merupakan hasil dari intensifikasi operasi, penguatan intelijen, serta kerja sama lintas lembaga, baik di dalam maupun luar negeri.
Jaringan Narkoba Masih Jadi Ancaman Serius
Meski banyak kasus berhasil diungkap, Polri mengakui bahwa peredaran narkoba masih menjadi ancaman serius. Modus distribusi narkotika semakin kompleks, termasuk memanfaatkan jalur laut, darat, dan teknologi komunikasi digital.
Polri menegaskan komitmennya untuk terus memutus rantai peredaran narkoba hingga ke akar jaringan, tidak hanya menangkap pengguna, tetapi juga bandar dan pengendali utama.
Penanganan Pelanggaran Internal Jadi Sorotan
Selain kejahatan eksternal, laporan RAT 2025 juga menyinggung penanganan pelanggaran internal atau kasus yang melibatkan anggota kepolisian. Polri menegaskan bahwa upaya penegakan disiplin dan kode etik terus dilakukan sebagai bagian dari reformasi institusi.
Kasus polisi nakal yang mencederai kepercayaan publik disebut tetap ditindak tegas sesuai aturan. Polri menekankan bahwa tidak ada toleransi terhadap pelanggaran hukum maupun etika yang dilakukan oleh anggotanya.
Evaluasi dan Tantangan Ke Depan
Dalam laporan akhir tahun ini, Polri juga mengakui berbagai tantangan yang masih dihadapi. Perkembangan teknologi, kompleksitas kejahatan digital, serta jaringan narkoba lintas negara menjadi tantangan utama ke depan.
Polri menegaskan bahwa evaluasi menyeluruh akan terus dilakukan untuk meningkatkan profesionalisme, transparansi, dan kepercayaan publik. Penguatan sumber daya manusia dan teknologi menjadi fokus utama dalam strategi penegakan hukum ke depan.
Komitmen Polri Menjaga Keamanan Nasional
Melalui RAT 2025, Polri menegaskan komitmennya untuk terus menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Laporan ini diharapkan menjadi bahan evaluasi sekaligus refleksi bagi institusi kepolisian dalam menjalankan tugasnya.
Dengan keterbukaan data dan capaian kinerja, Polri berharap masyarakat dapat melihat upaya nyata yang dilakukan sepanjang 2025 dalam menghadapi berbagai bentuk kejahatan, baik konvensional maupun berbasis digital.
Baca juga : Polsek Manuhing Jamin Natal Aman di Gereja Bukit Sion
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : 1reservoir

