Kapolri Paparkan Tantangan Strategis Indonesia
Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Listyo Sigit Prabowo mengungkapkan bahwa Indonesia akan menghadapi berbagai tantangan besar dalam 10 tahun ke depan. Hal tersebut disampaikan saat Rilis Akhir Tahun (RAT) Polri 2025 yang digelar di Gedung Rupatama Mabes Polri, Jakarta Selatan.
Menurut Kapolri, tantangan tersebut bukan hanya bersifat nasional, tetapi juga merupakan dampak dari dinamika global yang semakin kompleks. Berbagai risiko ini berpotensi memengaruhi stabilitas keamanan, ekonomi, hingga kehidupan sosial masyarakat Indonesia dalam satu dekade mendatang.
Berdasarkan Global Risk Report 2025
Listyo menjelaskan bahwa pemetaan risiko tersebut merujuk pada hasil riset Global Risk Report 2025 yang menjadi rujukan banyak negara dalam membaca ancaman masa depan. Laporan ini menyoroti berbagai risiko utama yang diprediksi akan mendominasi dunia, termasuk kawasan Asia Tenggara dan Indonesia.
Dari berbagai risiko yang teridentifikasi, Kapolri menilai bahwa sebagian besar sudah mulai dirasakan dampaknya saat ini, dan berpotensi semakin memburuk apabila tidak diantisipasi secara serius.
Cuaca Ekstrem Jadi Tantangan Paling Nyata
Salah satu tantangan utama yang paling terasa dampaknya adalah cuaca ekstrem. Kapolri menegaskan bahwa perubahan iklim telah memicu meningkatnya frekuensi bencana alam seperti banjir, badai, gempa bumi, dan tanah longsor.
Menurutnya, bencana akibat cuaca ekstrem tidak hanya menyebabkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur, tetapi juga memberikan tekanan besar terhadap stabilitas ekonomi. Aktivitas masyarakat terganggu, distribusi logistik terhambat, dan biaya pemulihan menjadi beban besar bagi negara.
Hilangnya Keanekaragaman Hayati dan Perubahan Alam
Selain cuaca ekstrem, tantangan lain yang disoroti adalah hilangnya keanekaragaman hayati dan perubahan sistem alam. Kerusakan hutan, degradasi lingkungan, serta berkurangnya habitat alami dinilai dapat memicu krisis ekologis jangka panjang.
Kapolri menilai bahwa dampak lingkungan ini tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan erat dengan ketahanan pangan, ketersediaan air bersih, serta kesehatan masyarakat. Jika tidak ditangani, perubahan sistem alam dapat memperburuk kualitas hidup generasi mendatang.
Kelangkaan Sumber Daya dan Tekanan Ekonomi
Kelangkaan sumber daya alam juga masuk dalam daftar tantangan utama. Keterbatasan energi, pangan, dan air bersih berpotensi memicu konflik sosial serta memperlebar kesenjangan ekonomi.
Menurut Kapolri, tekanan ini dapat diperparah oleh pertumbuhan penduduk dan meningkatnya kebutuhan hidup. Negara dituntut untuk memiliki kebijakan yang adaptif dan berkelanjutan agar mampu menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan pelestarian sumber daya.
Ancaman Misinformasi dan Disinformasi
Di luar faktor alam, Kapolri menyoroti ancaman misinformasi dan disinformasi yang semakin marak. Penyebaran informasi palsu dinilai dapat memicu kegaduhan sosial, polarisasi politik, hingga konflik horizontal di masyarakat.
Kemajuan teknologi digital dan media sosial membuat penyebaran informasi menjadi sangat cepat. Tanpa literasi digital yang memadai, masyarakat rentan terpapar narasi yang menyesatkan dan merusak persatuan.
Dampak Negatif Kecerdasan Buatan
Teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) juga menjadi perhatian serius. Meski membawa banyak manfaat, AI dinilai memiliki potensi dampak negatif jika tidak diatur dengan baik.
Kapolri menyinggung risiko penyalahgunaan AI, seperti pembuatan konten manipulatif, deep fake, hingga kejahatan siber yang semakin canggih. Tantangan ini menuntut kesiapan aparat keamanan dan regulasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Ketimpangan dan Polarisasi Sosial
Masalah ketimpangan sosial dan polarisasi masyarakat juga masuk dalam daftar risiko besar. Perbedaan akses ekonomi, pendidikan, dan teknologi berpotensi memicu ketegangan sosial yang lebih luas.
Kapolri menilai bahwa ketimpangan yang dibiarkan dapat menggerus kepercayaan publik terhadap institusi negara dan menciptakan kerentanan terhadap konflik sosial.
Spionase dan Perang Siber
Dalam konteks keamanan global, spionase dan perang siber menjadi tantangan serius. Serangan siber terhadap infrastruktur vital negara, lembaga pemerintahan, dan sektor strategis dinilai dapat mengancam kedaulatan nasional.
Kapolri menegaskan bahwa ke depan, ancaman keamanan tidak selalu berbentuk fisik, melainkan juga serangan digital yang bersifat senyap namun berdampak besar.
Polusi dan Penurunan Kualitas Hidup
Polusi lingkungan juga menjadi tantangan yang semakin menekan kualitas hidup masyarakat. Pencemaran udara, air, dan tanah berdampak langsung pada kesehatan publik dan produktivitas ekonomi.
Jika tidak dikendalikan, polusi dapat meningkatkan beban kesehatan nasional serta memperparah ketimpangan sosial, terutama bagi kelompok masyarakat rentan.
Dampak Konflik Global terhadap Indonesia
Di luar tantangan domestik, Kapolri juga menyinggung tekanan global akibat konflik antarnegara. Perang Rusia-Ukraina, konflik Israel-Palestina, hingga perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok disebut berdampak luas pada ekonomi dunia.
Menurutnya, konflik tersebut memengaruhi rantai pasok global, harga pangan, energi, serta stabilitas ekonomi nasional. Dinamika perang dagang juga menjadi salah satu kekhawatiran utama dunia saat ini.
Indonesia Tidak Kebal dari Dampak Global
Kapolri menegaskan bahwa Indonesia tidak terlepas dari dampak dinamika global tersebut. Sebagai bagian dari komunitas dunia, Indonesia harus bersiap menghadapi berbagai risiko dengan memperkuat ketahanan nasional di berbagai sektor.
Ia menekankan pentingnya sinergi antara aparat keamanan, pemerintah, dan masyarakat dalam menghadapi tantangan satu dekade ke depan agar stabilitas nasional tetap terjaga.
Baca Juga : Gerindra Dorong Pilkada Lewat DPRD Dikaji Ulang
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : petanimal

