Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) resmi menghentikan proses pencarian korban bencana banjir bandang dan tanah longsor di Sumatra Barat (Sumbar) dan Sumatra Utara (Sumut). Keputusan tersebut diambil seiring dengan perubahan status kebencanaan di kedua provinsi dari tanggap darurat menjadi transisi darurat.
Meski demikian, BNPB menegaskan bahwa penghentian ini tidak berarti penarikan penuh unsur penyelamat. Tim pencarian dan pertolongan atau search and rescue (SAR) tetap disiagakan di lokasi bencana untuk merespons jika muncul informasi baru dari masyarakat.
SAR Tetap Disiagakan di Lokasi Bencana
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa keputusan penghentian pencarian didasarkan pada evaluasi menyeluruh di lapangan.
“Untuk Sumatra Utara dan Sumatra Barat, proses pencarian sudah dihentikan, tapi tim SAR masih terus stand by,” ujar Abdul Muhari di Graha BNPB, Jakarta Timur.
Ia menambahkan, tim SAR hanya akan kembali melakukan pencarian aktif apabila terdapat laporan atau informasi baru dari masyarakat yang mengindikasikan kemungkinan keberadaan korban di titik tertentu.
“Artinya, jika ada informasi dari masyarakat terkait lokasi atau posisi yang diidentifikasi sebagai korban, maka tim SAR akan langsung melakukan pencarian di titik tersebut,” jelasnya.
Status Kebencanaan Berubah ke Transisi Darurat
Perubahan status dari tanggap darurat ke transisi darurat menandakan fokus penanganan bencana mulai bergeser. Jika pada fase tanggap darurat prioritas utama adalah penyelamatan korban, maka pada fase transisi darurat pemerintah mulai menitikberatkan pada pemulihan awal, pendataan dampak, serta perbaikan infrastruktur dasar.
Dalam konteks Sumut dan Sumbar, BNPB menilai upaya pencarian korban telah dilakukan secara maksimal sesuai standar operasi, sehingga penanganan memasuki tahap lanjutan.
Aceh Masih Lanjutkan Pencarian Korban
Berbeda dengan Sumut dan Sumbar, pencarian korban di Provinsi Aceh masih terus dilakukan. Abdul Muhari menyebutkan, dari 14 kabupaten terdampak bencana di Aceh, sebagian besar telah masuk fase transisi darurat. Namun, masih ada empat kabupaten yang memperpanjang status tanggap darurat.
Empat kabupaten tersebut adalah Aceh Tengah, Gayo Lues, Aceh Tamiang, dan Pidie Jaya. Selama status tanggap darurat masih berlaku, operasi pencarian korban di wilayah-wilayah tersebut tetap dilanjutkan secara aktif.
“Di Provinsi Aceh pencarian korban masih terus dilakukan karena status tanggap darurat masih diperpanjang,” kata Abdul Muhari.
Korban Jiwa Capai Ribuan Orang
BNPB juga merilis data terbaru terkait dampak bencana di wilayah Sumatra hingga 9 Januari 2026. Total korban jiwa tercatat mencapai 1.182 orang. Rinciannya:
- Aceh: 544 orang meninggal dunia
- Sumatra Utara: 374 orang meninggal dunia
- Sumatra Barat: 264 orang meninggal dunia
Selain korban meninggal, jumlah korban hilang hingga saat ini masih tercatat sebanyak 145 orang.
Rinciannya, 31 orang masih hilang di Aceh, 42 orang di Sumatra Utara, dan 72 orang di Sumatra Barat. Data ini masih bersifat dinamis dan dapat berubah jika ditemukan informasi baru di lapangan.
Fokus Bergeser ke Pemulihan Awal
Dengan dihentikannya pencarian di Sumut dan Sumbar, BNPB bersama pemerintah daerah mulai memusatkan perhatian pada fase pemulihan awal. Langkah ini meliputi pendataan kerusakan rumah warga, perbaikan fasilitas umum, pemulihan akses jalan, serta pemenuhan kebutuhan dasar bagi penyintas.
BNPB juga terus mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana susulan, mengingat kondisi cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah.
Komitmen BNPB dalam Penanganan Bencana
BNPB menegaskan bahwa meskipun pencarian korban dihentikan secara resmi di beberapa wilayah, negara tetap hadir dalam penanganan dampak bencana. Kesiapsiagaan SAR, pendampingan bagi korban terdampak, serta koordinasi lintas lembaga akan terus dilakukan hingga kondisi benar-benar pulih.
Ke depan, evaluasi menyeluruh atas bencana di Sumatra ini diharapkan menjadi dasar penguatan mitigasi dan kesiapsiagaan, agar risiko dan dampak bencana serupa dapat ditekan di masa mendatang.
Baca Juga : Pimpin Dewan HAM PBB, Dubes RI Hadapi Krisis Global Mendalam
Cek Juga Artikel Dari Platform : radarjawa

