Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan kerja ke wilayah terdampak bencana di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, pada hari terakhir tahun 2025. Dalam agenda tersebut, Presiden didampingi Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin untuk memastikan proses pemulihan infrastruktur dan layanan kesehatan berjalan terpadu dan efektif.
Kunjungan ini menegaskan komitmen pemerintah pusat dalam mempercepat pemulihan daerah terdampak bencana, terutama pada sektor-sektor vital yang menyangkut keselamatan serta aktivitas ekonomi masyarakat.
Tinjau Infrastruktur Penghubung yang Vital
Presiden Prabowo bersama rombongan mendarat di Bandar Udara Raja Sisingamangaraja XII, Tapanuli Utara. Dari lokasi tersebut, Presiden melanjutkan perjalanan menggunakan helikopter Caracal menuju lokasi pembangunan Jembatan Bailey di Sungai Garoga, Kecamatan Batang Toru.
Dalam arahannya di lokasi, Presiden menekankan bahwa percepatan penyelesaian infrastruktur penghubung merupakan prioritas utama. Menurutnya, jembatan memiliki peran krusial dalam memulihkan mobilitas warga serta memastikan kelancaran distribusi logistik yang sempat terhambat akibat bencana.
“Penyelesaian jembatan ini sangat penting bagi mobilitas masyarakat dan arus distribusi barang antarwilayah,” ujar Presiden Prabowo.
Jembatan Bailey Jadi Urat Nadi Wilayah
Jembatan Bailey sepanjang 44 meter tersebut dibangun oleh Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat melalui Detasemen Zeni Tempur (Denzipur), bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum.
Jembatan ini dirancang memiliki kapasitas beban hingga 25 ton dan diproyeksikan menjadi jalur penghubung utama antara Kabupaten Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan. Sebelumnya, konektivitas antarwilayah tersebut sempat lumpuh akibat kerusakan infrastruktur pascabencana.
Keberadaan jembatan darurat ini diharapkan mampu mempercepat pemulihan aktivitas ekonomi, distribusi bahan pokok, serta akses layanan publik bagi masyarakat setempat.
Pastikan Layanan Kesehatan Tetap Optimal
Usai meninjau progres pembangunan infrastruktur, Presiden Prabowo dan Menhan Sjafrie melanjutkan agenda dengan berdialog bersama tenaga medis di Posko Kesehatan Kodam I Bukit Barisan yang berlokasi di Desa Batu Hula.
Dalam kesempatan tersebut, Menhan Sjafrie menegaskan bahwa keterlibatan TNI dalam pembangunan jembatan maupun pengoperasian pos kesehatan merupakan bagian dari Military Operations Other Than War (MOOTW) atau operasi militer selain perang, yang berfokus pada misi kemanusiaan.
Ribuan Warga Telah Terlayani
Berdasarkan laporan Alfian, Kapten CKM dari Kesdam I Bukit Barisan, tim medis TNI telah bersiaga selama 36 hari sejak bencana terjadi. Selama periode tersebut, lebih dari 2.300 warga terdampak telah mendapatkan layanan kesehatan.
Kasus yang paling banyak ditangani antara lain infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) serta infeksi kulit, yang umum muncul di wilayah terdampak bencana akibat kondisi lingkungan dan keterbatasan sanitasi.
“Posko ini diperkuat oleh dokter dari Kesdam I Bukit Barisan serta dukungan Puskesmas dan Dinas Kesehatan setempat untuk menjamin pelayanan kesehatan setiap hari bagi masyarakat,” ungkap Alfian.
Komitmen Pemerintah dalam Pemulihan Terpadu
Kunjungan kerja Presiden Prabowo yang didampingi Menhan Sjafrie ini menegaskan pendekatan pemulihan terpadu antara pembangunan infrastruktur dan layanan kesehatan. Pemerintah menilai kedua aspek tersebut tidak dapat dipisahkan dalam upaya mengembalikan kehidupan masyarakat pascabencana.
Dengan keterlibatan aktif TNI, pemerintah daerah, serta kementerian terkait, diharapkan proses pemulihan di Tapanuli Selatan dapat berjalan lebih cepat, terkoordinasi, dan berkelanjutan demi kesejahteraan masyarakat setempat.
Baca Juga : 5 Shio Paling Beruntung di 2026, Macan dan Kuda Bersinar
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : otomotifmotorindo

